Lily Nababan
by on September 27, 2018
34 views

Perusahaan rintisan (startup) yang Anda buat bersama teman, sahabat, kerabat —atau Anda sendiri saja—  sudah beroperasi. Penjualan, pemasaran dan pendapatan sudah berjalan. Tim kerja sudah terbentuk dan Anda didapuk sebagai eksekutif tertinggi alias CEO (chief executive officer) atau presiden direktur istilah kerennya.

Tidak seperti di awal usaha dimana Anda melakukan semua pekerjaan seorang diri atau bersama beberapa pendiri (founders) mulai dari produksi, pemasaran, penjualan hingga office boy, sebagai pimpinan Anda kini mempunyai tim. Sebagai CEO Anda mempunyai wewenang untuk mendelegasikan pekerjaan pada wakil dan bawahan Anda. Lalu Anda pikir kini Anda bisa lebih leluasa menjalin networking dan mencari investor sambil hadir di seminar-seminar atau sambil ngopi-ngopi?

Tunggu dulu.

CEO tidak bisa mendelegasikan semua pekerjaannya kepada bawahan dan tim kerjanya. Di dalam buku “The Startup CEO Guidebook” yang ditulis oleh Dan Shapiro, diuraikan enam hal yang tidak bisa didelegasikan oleh seorang CEO startup.

1. CEO Membangun Tim

Salah satu dari berbagai masalah yang penulis dengar dari para CEO Startup yang memiliki mimpi besar adalah bahwa mereka punya gagasan besar untuk sebuah bisnis tetapi mereka tidak terlalu butuh bantuan pendiri lain untuk membangun ide tersebut. Ini bagai ingin menjadi penyanyi rock terkenal segera setelah Anda belajar memainkan alat musik. 

Pengaruh terbesar CEO terhadap perusahaan bukanlah kontribusinya terhadap produk, strategi, atau bahkan pendanaan perusahaan. Kontribusi terbesarnya  adalah ‘kemampuan sihir’ untuk merekrut tim yang akan sangat efektif dalam menjalankan strategi perusahaan. CEO yang hebat merekrut tim yang jauh lebih baik daripada harapan. Singkatnya kompetensi inti seorang CEO adalah "janjian".

Tanggung jawab CEO yang paling penting adalah membangun tim, dan bagian terpenting dari tim adalah para pendirinya. Jika CEO tidak dapat menemukan co-founder yang percaya pada dirinya dan visinya cukup kuat untuk mengambil lompatan, mustahil dia akan dapat mengisi sisa tim eksekutif, apalagi meyakinkan investor untuk mengucurkan dana.

Ketika tim mulai tumbuh, CEO masih menjadi inti dalam membangun tim perusahaan

2. CEO adalah Pemegang Visi Perusahaan

Tidak setiap CEO seorang visioner. Kenyataannya, visi perusahaan bisa datang dari berbagai sumber. Kadang-kadang dibangun dengan sangat serius oleh pendirinya, setelah menghabiskan bertahun-tahun bekerja keras di industrinya. Kadang-kadang datang dari pertimbangan, observasi, dan inspirasi oleh tim pendiri yang bekerja bersama. Terkadang si boss mencurinya dari analis yang dibayar murah. 

Seorang CEO tidak perlu menjadi seorang visioner. Tetapi CEO memang perlu memperjuangkan visi, mengajarkannya terus menerus, dan menjaganya tetap hidup melalui hari-hari paling suram di perusahaan.

3. CEO adalah Pimpinan Strategi

Visi tidak berguna jika lenyap dalam hal-hal kecil dari kehidupan sehari-hari. Peran CEO adalah menjadi penyeimbang yang berkelanjutan: di satu sisi menjaga perusahaan tetap hidup dan keluar dari bahaya; di sisi lain, memindahkan bisnis menuju sesuatu yang lebih besar. Dua peran itu sering berselisih, dan dalam banyak kasus, titik poros jungkat-jungkit adalah CEO.

Hal seperti membuat keputusan strategis, harus datang dari CEO. Itu tidak bisa didelegasikan. Menjadi CEO berarti membuat keputusan-keputusan baik dengan cepat. 

CEO yang menderita selama berbulan-bulan atas respon terhadap pesaing, yang mengubah strategi produk setiap kali dia berbicara dengan pelanggan bukanlah eksekutif yang akan memimpin perusahaannya menuju kesuksesan.

4. CEO Mengurus Para Investor

Penggalangan dana adalah kebutuhan yang menyakitkan bagi banyak perusahaan rintisan. Hal ini membutuhkan pengetahuan akan undang-undang tertentu dan instrumen keuangan yang tidak digunakan di tempat lain di dunia. Perusahaan membutuhkan akses ke jaringan hubungan yang belum banyak dimiliki pendiri. Dan seperti halnya proses penjualan, proses itu sangat melelahkan, mengecewakan, dan sering berbenturan dengan ego. Yang terburuk dari semuanya, sebagian besar startup gagal melakukannya.

Bagaimana kalau Anda bisa merekrut seorang konsultan yang sudah mempunyai jaringan pertemanan (network)? Seseorang yang merupakan pembicara ulung dan memberikan ide-ide brilian. Seseorang yang terbiasa dengan bolak-balik proses negosiasi, dan dapat membawa perusahaan pada penghasilan besar. Bisa saja. Dan jabatanya adalah “CEO" yaitu mereka yang memberi tahu Anda hal sebaliknya adalah menjual omong kosong.

Konsultan akan memberi saran ini-itu, namun ingatlah bahwa CEO adalah satu-satunya yang dapat meningkatkan modal perusahaan. CFO dan konsultan luar lain dapat membantu dalam peran tambahan, tetapi hanya pimpinan eksekutif perusahaan yang dapat membawa serta semua hal tersebut bersama-sama.

5. CEO Memiliki Hubungan yang Kritis 

Banyak perusahaan mempunyai aturan sendiri mengenai hubungan yang penting untuk keberhasilan mereka. Perusahaan yang mencari liputan pers menginginkan hubungan dengan wartawan Perusahaan yang menjual infrastruktur bagi perusahaan-perusahaan Fortune 500 harus mempunyai hubungan dengan para eksekutif disana.

Dengan berbagai alasan, hubungan ini membutuhkan CEO sebagai pemilik utama. Bukan berarti anggota tim lain tidak bisa membantu, tetapi hubungan yang sangat penting satu-satunya adalah dengan CEO.

Lingkungan yang mirip bisa terjadi dengan kelompok perdagangan industri, seorang pengakuisisi potensial, atau hubungan lain yang strategis bagi keberhasilan bisnis Anda. Pihak lain di perusahaan bisa juga terlibat dalam ikatan ini tetapi pada akhirnya mereka ingin mendengar dari seorang CEO, dan membiarkan eksekutif lain yang melakukan hal itu tentunya akan merugikan perusahaan Anda.

6. CEO Menetapkan Budaya Perusahaan.

Satu hal yang pasti adalah apapun budaya perusahaan, CEO akan menjadi contohnya. Organisasi yang sangat etis muncul dari panutan yang berusaha ditiru oleh karyawan perusahaan.

Budaya bisnis yang Work Hard/Play Hard mau tidak mau harus dipimpin CEO yang hobi bekerja keras —juga bersenang-senang-- hingga larut malam. Tumpukan ketakutan dan kebencian, politik kantor serta gosip; semuanya akan ditimpakan pada CEO.

Semua orang berkontribusi pada budaya perusahaan, tetapi pada akhirnya, CEO adalah pemimpin panutan. Jika Anda adalah tipe orang yang merasa ngeri oleh gagasan organisasi luas yang bergantung pada setiap perkataan Anda dan meniru Anda sebagai teladan, itu bagus. Memiliki ego yang normal adalah aset, dan orang-orang normal akan sangat tidak nyaman dengan gagasan menumbuhkan kultus kepribadian diantara sifat-sifat terbaik dan terburuk mereka. Tetapi cepat atau lambat itu akan terjadi. 

Benang Merah: Delegasi

Pekerjaan utama CEO adalah menemukan orang-orang hebat dan membuat mereka efektif dalam mengerjakan bisnis perusahaan, yaitu pendelegasian.

Pada awalnya, mendelegasikan berarti mempercayai (sembari memverifikasi) bahwa rekan pendiri Anda melakukan pekerjaan mereka saat Anda melakukan pekerjaan Anda. Dan pada tahap awal, di sebagian besar waktu, pekerjaan Anda mungkin lebih mirip manajer junior atau manajer produk daripada eksekutif.

Tetapi saatperusahaan Anda semakin bertumbuh, semakin banyak yang harus didelegasikan. Pendelegasian teknologi, operasional, juga penjualan. 

Tiga rahasia kesuksesan CEO ialah mengetahui apa yang harus didelegasikan, memiliki tim yang tepat untuk didelegasikan, dan menguasai apa yang tidak dapat didelegasikan. ***

Penulis: Apoorva Dutt, Tech in Asia.

Posted in: Startups