• Facebook
  • Linkedin
  • Google
Maya
by on October 10, 2019
5 views

Estubizi X DailySocial.id

Pendiri dan CEO TickledMedia Roshni Mahtani, yang merupakan induk perusahaan dari TheAsianParent, mampu mengembangkan startup-nya ke enam negara dengan berinvestasi terhadap kultur. Ia berbagi pengalamannya di hari kedua acara Echelon Jakarta 2015.

Setiap startup punya kulturnya sendiri-sendiri. Pendiri akan membangun perusahaan sesuai dengan cara yang mereka pikir dapat membawa perusahaan tersebut berkembang dengan cepat. Internet memungkinkan sebuah startup dapat meningkatkan skala usaha tanpa batasan wilayah.
 
Kenapa kultur penting?

TheAsianParent merupakan platform konten yang bertujuan untuk menjadi teman bagi setiap ibu. Didirikan Roshni tahun 2009. Saat itu hanya terdiri dari lima orang. Roshni menceritakan bahwa seluruh timnya keluar dari pekerjaan lama untuk kemudian mengembangkan startup. Setelah banyak perenungan ia pun menyadari bahwa ada yang kurang dalam perusahaannya, yakni sebuah kultur. “Anda tak bisa berpikir ‘saya menggajimu, jadi kerjakan tugasmu!’,”ujarnya.

Startup tidak bisa berjalan seperti itu, kultur perusahaanlah yang membuat sebuah tim bekerja dalam satu tujuan yang sama.

“Membangun kultur perusahaan tidak membutuhkan uang sama sekali hanya waktu untuk merenungkan, dan ini bagian tugas dari CEO. Kultur adalah investasi terbaik yang pernah saya lakukan,” ujarnya. Ia menambahkan, karyawannya saat ini rata-rata telah bekerja tiga tahun lebih. Ia pun percaya bahwa karyawan yang bahagia akan menjadi karyawan yang produktif.
 
Membangun kultur perusahaan

Kultur merupakan hal yang terdengar sepele. Namun startup yang sukses di dunia juga terkenal memiliki kultur yang kuat. Bila kita mencari definisi kultur, tentu akan banyak sekali penjelasannya.

Untuk itu Roshni mencoba untuk memberi rangkuman tentang kultur, yakni perilaku, kepercayaan, nilai sekelompok orang yang diturunkan melalui komunikasi dan proses imitasi.

Sebelum menentukan kultur startup, harus ditentukan nilai-nilai yang penting dalam perusahaan. Misalnya integritas, keterbukaan atau apa saja yang penting bagi Anda sebagai seorang CEO, dan padukan hal tersebut terhadap nilai-nilai perusahaan.

Kultur membantu orang mengerti tugasnya

Setelah menentukan kultur perusahaan, selanjutnya yang perlu Anda kerjakan adalah menularkannya ke seluruh tim. Sebab kultur dapat menjadi sebuah esensi dari perusahaan ketika hal tersebut juga dipahami oleh perusahaan.

Roshni juga mengatakan bahwa untuk membangun tim yang baik adalah dengan memperkerjakan orang yang cocok dengan kultur perusahaan namun juga memiliki skill yang dibutuhkan. Ia membeberkan tipsnya, “jangan pekerjakan orang berdasarkan personality-nya saja. Namun berdasarkan karena Anda merasa cocok dengannya, tapi padukan dengan skill yang dibutuhkan.”

Caranya adalah dengan melakukan proses wawancara yang agresif. Cari tahu kepribadiannya apakah memiliki nilai-nilai yang dipegang teguh perusahaan, apakah ia akan cocok dengan kultur yang ada. Setelah itu, uji juga kemampuannya berdasarkan standar keterampilan yang dibutuhkan. Perpaduan keduanya akan menghasilkan tim yang kuat.

Kultur merupakan bagian yang tak terpisahkan dari startup, ada baiknya setiap CEO benar-benar menaruh perhatian untuk hal ini. Tak hanya mengatakan “kami memiliki kultur”, tetapi pastikan juga kultur tersebut benar-benar sudah menjadi kebiasaan yang melekat di setiap anggota tim Anda.

(Artikel ini ditulis Hesti Pratiwi dan telah dipublikasi DailySocial.id pada 15 April 2015 https://dailysocial.id/post/ekpansi-pasar-tidak-harus-mengorbankan-budaya-perusahaan)