Mazda Radita
by on February 14, 2019
10 views

Estubizi X DailySocial.id

Menjalankan startup, mengejar mimpi, dan bekerja sesuai dengan renjana (passion). Semua itu terdengar indah, bukan? Sebab jika kita melakukan sesuatu yang menjadi renjana kita bisa jadi kita akan mendapat sebuah semangat yang tak ada habisnya. Bahan bakar untuk terus maju dan berusaha. Anggap saja itu semua benar (dan bagi sebagian orang hal tersebut memang benar adanya), namun membangun usaha bukan tanpa halangan dan tantangan setiap hari.

Sudah sering terdengar banyak CEO dan founders yang menganalogikan menjalankan startup seperti naik roller coaster, naik turunnya begitu cepat. Mendengarnya saja sudah dapat membayangkan energi dan tantangan mental yang terkuras setiap hari. DailySocial mencoba menghubungi beberapa pelaku startup untuk mengetahui cara mereka mengelola stres. Sebab stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi produktivitas dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang jernih.


Game, game, game! - Ryan Gondokusumo, Founder Sribu dan Sribulancer

“Terlalu sering stres malah jadi kebal,” kelakarnya. Ryan tidak memungkiri bahwa ada masa dalam perjalanan membangun startup ia sempat merasa down yang cukup lama.”Misalnya waktu ditolak investor, padahal sudah hampir deal,” kenangnya.  Namun ia menyadari bahwa hal tersebut tidak baik buat perusahaan dan timnya. “Saya beli meja pingpong di kantor, kalau lagi stres main pingpong,” begitu caranya membangkitkan mood. Selain itu, ia juga sering mengajak timnya bermain Counter Strike bersama.


Tidak membiarkan emosi mengambil alih - Winastwan Gora Swajati, Co-founder Kelase

Co-founder sekaligus CTO Kelase ini, mengaku belum pernah stres saat menjalankan Kelase. “Selama menjalankan startup malah kayak jalani hobi, yang bikin stres adalah ngerjain kerjaan yang tidak sesuai passion, tapi harus dikerjain misalnya pas dapat kerjaan konsultansi,”ujarnya buka-bukaan. Meski  ia mengakui bahwa realitasnya susah, hanya saja ia tak pernah merasakan susah, karena merasa benar-benar senang dengan hal yang dilakukannya. “Kalau ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana, ada halangan, tidak jadi dapat proyek, kesempatan bisnis lepas, biasanya ya hanya sedih sebentar, dan saling menyemangati antar anggota tim,” ujarnya.

Tantangan yang sering bikin pusing Winastwan adalah bila salah satu anggota tim performa kurang baik. “Tapi saya upayakan tidak emosi, bahkan sampai stres, yang penting diurut masalahnya dan dicari solusinya. Paling saya ajak makan bareng dan diskusi personal. karena prinsip saya adalah tentang ‘empowering people’”ujarnya. Untuk menghindari marah-marah Winastwan biasanya akan menghilang sejenak untuk sekadar menyeruput kopi dan mendengarkan musik melalui layanan streaming Ohdio. Dia mengakui, “Pengalaman saya marah dan emosi tidak pernah menghasilkan solusi.”


Lupakan pekerjaan sejenak - Asep Bagja Priandana, Founder FroyoStory

“Yang bikin stres kalau deadline sudah di depan mata, lalu ada ‘shit happen moment’ misalnya anggota tim yang jatuh sakit, tapi deadline tidak bisa dimundurkan, karena klien tidak mau tahu itu,” cerita Asep.  Apa pun halangan yang terjadi saat tenggat waktu sudah di depan mata bisa sangat menguras emosi dan melelahkan mental.

Bila hal tersebut terjadi, yang dilakukan Asep adalah justru tidak melakukan apa-apa sejenak. “Berhenti bekerja sebentar, cari suasana yang tenang, dan sebisa mungkin matikan alat komunikasi sekedar untuk hening sejenak,” katanya. Bahkan untuk menjalani masa-masa kurang enak, ia menyarankan tidak perlu berlibur jauh-jauh. Apalagi jika dananya tidak ada. “Buat yang sudah berkeluarga ada cara gampang dan murah. Peluk saja pasangan Anda, itu sudah bisa menaikkan mood dan motivasi,” sarannya.


Bangun support system yang kuat  - Ario Tamat, Co-founder Ohdio dan CEO Wooz.in
“Saya lebih sering senewen sih ketimbang stres,” canda Ario membuka percakapan. “Yang bikin senewen tentunya when things don’t go as planned. Sudah biasa tapi tetap senewen,” lanjutnya.  Ario menjelaskan menjalankan startup stres bisa timbul akibat masalah seputar traction (users atau clients), cashflow, team management, dan terkadang ada aja masalah yang tidak diperkirakan datang.

“Jadi emang stress gak bisa dihindari. You just get used to it,” menurut Ario.

Cara mengatasinya adalah dengan mengalihkan energi untuk  memformulasikan jalan keluar. Ario mengatakan, “Mau itu kelar cepat atau lambat, tapi ada jalannya. Minta tolong ke orang kalau perlu, atau sekadar ngobrol. Ngobrol sama partner internal dalam perusahaan, atau sama istri. Ngobrol sama teman lama yang nggak di industri juga membantu.”

Biasanya setelah banyak “curhat” Ario sadar bahwa masalah-masalah yang sedang dihadapi sebenarnya tidak besar, dan akan dihadapi siapa aja. Makanya ia yakin bahwa  semua itu bisa dilalui. Saran Ario, “Accept the stress and deal with it, don’t reject it or fret about it too long.

 

(Artikel ini ditulis Hesti Pratiwi dan telah dipublikasi DailySocial.id pada 12 November 2014 dalam tautan https://dailysocial.id/post/cara-founder-startup-hadapi-stres)

Posted in: Startups, Leadership