Lily Nababan
by on December 20, 2018
230 views

Perusahaan x Ekosistem Ekonomi Kreatif

 

Presiden CoworkingID mengungkapkan bahwa kewirausahaan dan bisnis kecil menengah adalah tulang punggung ekonomi suatu negara, dan coworking adalah elemen penting dalam pembangunan ekosistem kewirausahaan. “Visi Perkumpulan Coworking Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui gerakan coworking” ujar Faye di setiap presentasinya.

 

Markus Liman Rahardja dari Bank BRI menjelaskan bahwa peran Bank BRI sudah ditetapkan sebagai sebuah ekosistem. Bank BRI merupakan bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia. November 2017 tercatat sudah Rp 153,9 triliun KUR yang disalurkan; sebesar 40,5% atau Rp 68,3 T tersalurkan ke sektor produktif sesuai arahan Presiden. Ada sekitar 7 (tujuh) ekosistem yang menjadi sasaran pelayanan BRI; dan coworkingspace menjadi bagian dari Ekosistem Komunitas selain sekolah dan universitas, juga travel dan turisme/wisata.  

 

Bank BRI mendukung ekosistem ini dengan cara menggiatkan berbagai kolaborasi strategis. Kendati BRI lembaga keuangan, sinergi ini menurut Markus tidak hanya berkaitan dengan uang tetapi juga skill, program dan lainnya.

 

Telkomsel sebagai pemain telekomunikasi menyoroti masalah terbesar yaitu aksesiilitas. Indonesia mempunyai luas wilayah dan jumlah penduduk yang besar, memang membutuhkan startup lokal, kata Steve Saerang dari Telkomsel, dan kenyataannya 90% startup lokal itu gagal. Masalah utamanya adalah aksesibilitas sumbernya kebanyakan berada di kota-kota besar. Masalah lainnya adalah network, exposure, capital, mentor dan academy

 

Solusinya, Telkomsel sudah mengupayakan 4 hal yaitu digital competitiveness, digital ecosystem, digital platform & facility dan international recognition. Perusahaan ini membuat ajang penemuan startup lokal yang bernama Nexdev dengan melakukan scale-up dan mendatangi kota-kota di seluruh Indonesia. 

 

Agar dapat berperan dalam ekosistem ekonomi kreatif, Budi dari grup Tempo menyarankan kolaborasi yaitu memadukan kekuatan masing-masing; baik perusahaan maupun coworking space. Sedangkan Telkomsel menjelaskan CSR perusahaannya tidak lagi berupa filantrofi tetapi fokus pada produk (product) dan orang (people). Ia menyarankan agar startup mengkalibrasi diri. Tren giving (memberi) yang semakin mendunia juga harus menjadi bagian dari startup lokal. “Karena kalau mereka berhasil maka mereka akan juga giving ke komunitas lokal lagi” tutur Steven. Kalau ini terus bergulir maka angka keberhasilan startup lokal tak mustahil dapat meningkat.

 

Unilever yang kantor barunya di daerah BSD sudah bergaya coworking space serta memaksimalkan konsep green-nya menyikapi dengan bijak pertanyaan tentang bagaimana coworkingspace mendapatkan akses pendanaan. Irma Erinda dari Unilever menjelaskan pertanyaan yang kerap dilontarkan pengelola dan pemilik coworkingspace tersebut. “Sumber-sumber kita terbatas, peluang banyak, sehingga harus ada prioritas. Maka perlu ada asosiasi untuk korporasi bisa berkomunikasi langsung seperti dengan CoworkingID ini,” ungkapnya.  

 

Hal yang kerap pula menjadi pertanyaan dan harapan coworking adalah tentang menambah  cabang (branching out) coworking; kapan dirasa perlu dan bagaimana. Christ Angkasa dari CoHive mengatakan bahwa menambah cabang itu bukan melulu soal lokasi atau jumlah cabang, tetapi juga tentang apa yang intangible atau yang tidak kelihatan. Misalnya kemampuan (capability). Artinya suatu coworkingspace itu bukan tumbuh satu arah melainkan meluas dengan segenap keunggulan yang dimiliki.

 

Serupa dengan Christ, Faye Alund mengatakan sebuah coworking bisa tetap satu lokasi namun seiring berjalannya waktu ia bertambah dengan menambah unit-unit bisnis yang meningkatkan pendapatan utama atau revenue stream. Pendiri Kumpul Coworkingspace (Bali) ini mencontohkan keunikan lokasi bisa menghasilkan revenue stream, atau membuka warung kopi di dalamnya, dan lain-lain. 


Hal ini hampir sama dengan uraian Ongky, Pendiri Co & Co (Bandung) yang melihat penambahan cabang bisa 2 hal:  semakin luas (going wide) yaitu mengembangkan yang sudah ada, atau semakin dalam (going deep) dimana coworking mencari revenue stream lain. 

 

Sebelum menambah cabang, Christ menyarankan agar pemilik atau operator coworking memperhatikan framework yang disebutnya 3M yaitu Market, Momentum dan Men. Market atau pasar itu tidak bisa dikontrol. Lalu biasanya coworking baru mendapatkan momentum setelah enam bulan, baru terlihat adanya konsumen dan pemasukan. Investasi terbesar adalah men atau sumber daya manusia. Masalah utama di kebanyakan coworking, menurut Christ, adalah terlalu bergantung pada para pendiri (Founders). Ini hal yang perlu diatasi segera dengan pembagian wewenang dan job list yang jelas di antara para pendiri. 

 

Alasan Christ, coworking adalah bisnis yang sangat rumit. “Anda harus berhati-hati dengan growing pain (suka duka saat bertumbuh),” tandas Christ. “Mulai menambah cabang berarti menambah orang. Kuncinya: harus berubah, tidak bisa dengan gaya manajemen ketika masih 2-3 orang staff. Dan itulah masa-masa paling penuh stress.”

 

Faye berbagi solusi untuk hal ini yaitu pendiri perlu melepas pelan-pelan dan lebih mensupport program. Kalau sebelumnya semua staff bisa langsung bertemu dan berbicara dengan pimpinan, maka kini harus melalui hierarkhi karena organisasi sudah semakin besar. “Buatlah tim dengan masing-masing kepala (head), misalnya di Kumpul tidak bisa lagi langsung lapor ke Faye,” jelasnya. Masalah yang dihadapi kebanyakan coworking adalah uang sewa. Kendati demikian, sarannya, coworking perlu berinvestasi di SDM maka revenue bisa meningkat 3-4 kali lipat. “Misalnya, ajak tim kamu ke Temu Coworking,” ujarnya. Semua ilmu dan networking yang didapat di forum ini akan membuat tim kamu lebih terinspirasi dan bersemangat.

 

Potensi Luar Biasa Di Daerah

 

Hal unik di acara di Temu seperti yang saya ungkap sebelumnya adalah para narasumber yang berasal dari kota-kota kecil dengan gagasan dan karya luar biasa serta berdampak baik pada lingkungan sekitarnya. Wakil bupati Trenggalek, Muhammad Nur Arifin yang juga bupati termuda di Indonesia, misalnya. Usianya 28 tahun, dan mulai bulan Februari 2019 ia menjabat sebagai Bupati Trenggalek

 

Mang Ipin, panggilannya, berpendapat coworkingspace itu adalah pemerintah lokal dan kota itu sendiri. Gagasannya adalah co-creation, bukan hanya sekedar coworking. Kendati tidak lulus kuliah, Ipin sudah tertarik memperhatikan Trenggalek yang 60 persen penduduknya adalah petani. Kegalauannya dengan kehidupan petani yang tidak bisa makmur, menggerakkan Ipin untuk memberikan pelatihan pertanian organik dan advokasi petani mengenai pengolahan lahannya. Di kota kecil itu juga ia dan teman-temannya membuat Prigi Fest untuk mengangkat perekonomian masyarakatnya. Kalau tidak musim ikan, masyarakat sekitarnya tidak mempunyai penghasilan. 

 

Kamu tahu dimana itu Dusun Kebonan Desa Gesang Kecamatan Tempeh? Tampak raut wajah bingung diantara para peserta Temu saat Asih dari Omah Sinau Gesang menjelaskan lokasi dusunnya di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Setelah 10 tahun bekerja di sebuah LSM asing, Asih kembali ke dusunnya. Asih prihatin dengan keadaan dusunnya yang tidak ada kegiatan kesenian atau apapun sementara ia memiliki keahlian membangun kapasitas suatu tempat. 

 

Maka ia memberikan berbagai kegiatan kreatif dibantu teman-temannya sebagai relawan, bekerja tanpa dibayar. Bermula dari kegiatan-kegiatan sederhana yang seringkali harus diupayakan sendiri pembayaran pada pengajarnya, kini Omah Sinau yang bertajuk Taman Bermain Belajar Berbudaya itu sudah mempunyai Learning Center. Tersedia pula training untuk komunitas-komunitas di Lumajang dan sharing skill oleh relawan dalam dan luar negeri, ruang kolaborasi yang dilakukan berkala, training dan konsultasi yang didalamnya ada kegiatan dolanan, crafting dan outbound, serta pasar kebun. Ke depan, Asih bermimpi mewujudkan Coworkingspace OSG yang rencana induknya sudah ia buat.

 

Jatiwangi sudah puluhan tahun terkenal sebagai penghasil genting rumah. Ginggi, pendiri Jatiwangi Art Factory, berupaya mengubah kota kecil yang biasa-biasa itu menjadi luar biasa. Ia memilih pendekatan berkesenian yang mengupayakan kegembiraan bersama, melebarkan pikiran kebutuhan dan kegelisahan bersama, membangun kembali jaringan lokal, dan menjalin jaringan global. Nah, bukankah ini semua juga menjadi unsur-unsur yang bisa kamu miliki dalam membangun coworkingspace? 

 

Selama 13 tahun Ginggi dan timnya mengupayakan semua itu selangkah demi selangkah. Kini kegiatannya berupa forum diskusi, workshop, pertunjukan, festival, pameran, screening (pemutaran film) dan pasar bulanan. JaF yang didirikan pada tahun 2005 ini memiliki program Festival Residensi, Festival Video Residensi dan Festival Musik Keramik. Uniknya, para peserta yang datang dari dalam dan luar negeri menginap di rumah-rumah penduduk selama festival dan acara lain. Secara langsung Ginggi mengajari hospitality dan menjual wisata pada lingkungan sekitarnya. 

 

Lahir di Coworkingspace

 

Pendiri Kostoom, Putri Yulia, bercerita tentang gagasan dan kerjanya mewujudkan aplikasi penjahit itu. Kostoom lahir dari keinginannya untuk menghubungkan para penjahit rumahan di seluruh Indonesia. Lindungi Hutan berupa platform crowdsourcing pelestarian ekosistem hutan yang berawal dari membantu petani menanam hutan dan menyelamatkan makan-makam yang terendam air laut. Hario Laskito, pendiri Lindungi Hutan, mengatakan sejak Desember tahun 2016 sudah menanam lebih dari 6000 pohon di beberapa daerah. 

 

Gringgo adalah sebuah sistem digital untuk pengelolaan sampah, lahir di Hubud, coworkingspace di Ubud, Bali. Febriadi Pratama, salah satu pendiri Gringgo, menjelaskan bahwa startup-nya ini ditujukan untuk industri yang menggunakan bahan daur ulang di Bali. Mereka membantu para pengumpul sampah dan mendapatkan pemasukan. Lalu Gringgo pindah ke Kumpul. Faye sebagai pemilik Kumpul ingin membantu Gringgo dan sebaliknya menanyakan apa yang bisa ditawarkan Gringgo untuk Kumpul.Ia menekankan kolaborasi semacam itulah yang diharapkan terjadi di setiap coworking. Coworkingspace juga bisa “menjual” kliennya. Gringgo mendapatkan developer juga investor pertama dari member Kumpul. Kerjasama juga bisa dilakukan dengan cara bayar sewa, misalnya Gringgo bayar sewa setengah dalam bentuk tunai dan setengah lagi barter.

 

Hari kedua sebelum unconfference, CEO Estubizi Coworkingspace menjadi pembicara untuk sesi yang bertajuk Coworking and Business Administration. Ia berbagi panggung dengan Erwin Surjadi dari Union Space (coworking Singapura) dengan moderator Fajar Anugerah, salah satu pendiri Comma, coworkingspace pertama di Jakarta.

 

Presentasi masing-masing pembicara cukup singkat. Isinya lebih tentang apa yang menjadi produk Estubizi dan Union Space. Namun yang unik seperti kata Fajar bahwa bergaul di Coworking ID membuat bahagia karena temanya sudah ada tapi penyampaiannya mendadak ada nasionalisme. Ini terkait dengan Ruslan yang memutarkan pidato Bung Karno tentang gotong royong sebelum presentasi. Namun peserta tampak tak merasa terganggu, bahkan bertepuk tangan penuh semangat usai video singkat itu. Ruslan juga menjadi moderator bersama Felencia Hutabarat, Sekjen Coworking ID, di hari kedua Temu.

 

Kamu ingin tahu isi presentasi Ruslan tentang Estubizi? Segera saja masuk ke www.network.estubizi.com.  ***

 

*Koleksi Foto: CoworkingID

 

 

 

Posted in: Startups
1 person likes this.