• Facebook
  • Linkedin
  • Google
Lily Nababan
by on December 20, 2018
908 views

*Oleh-oleh Estubizi dari Temu Coworking Indonesia 2018

Bisnis coworkingspace atau ruang kerja bersama di Indonesia mungkin adalah satu-satunya yang memiliki organisasi bukan asosiasi; disebut Perkumpulan Coworking Indonesia atau CoworkingID. Ini juga satu-satunya bisnis yang mengusung kebersamaan bukan persaingan, demikian klaim para anggota CoworkingID. Semangat bekerja sama, tolong menolong dan berbagi informasi, jejaring serta rejeki, bisa jadi juga hanya terjadi di CoworkingID. Seperti kata teman-teman anggota perkumpulan ini bahwa mereka bukan lawan atau teman, tetapi sebuah keluarga.

 

Coworking ID baru terbentuk tahun 2016; waktu itu jumlah coworkingspace —selanjutnya kita sebut coworking— baru ada sekitar 46. Setahun kemudian sudah berani mengadakan Temu Coworking yang pertama di Bandung pada 2017, diikuti sekitar 60-an coworking. Acara ini menjadi ajang belajar dan berjejaring antara pelaku serta penggerak coworking di Indonesia, selain juga mengunjungi beberapa coworking yang berdesain unik di Bandung.

 

Temu Coworking 2018 bertempat di Monod Huis, sebuah bangunan berusia hampir 100 tahun di kawasan Kota Lama Semarang. Kali ini dihadiri lebih dari 150-an coworking dari berbagai kota di Indonesia yang totalnya sudah sekitar 230 lebih. Selama 3 hari yaitu tanggal 7-9 Desember 2018 sekitar 300-an orang pemilik, penggiat, operator dan peminat coworking mengikuti acara Coworking Campus, Coworking Unconfference dan Walking Tour Kota Lama. 

 

Kegiatan ini merupakan ajang berkumpul, berdiskusi dan berbagi pengetahuan para pemilik dan pengelola coworking di Indonesia untuk lebih memahami industri, model bisnis yang tepat dan masa depan coworking space.

 

Tema pertemuan tahunan ini adalah Beyond the Space dimana peserta berkumpul, berdiskusi dan berbagi pengetahuan untuk lebih memahami industri, model bisnis yang tepat dan masa depan coworking. Seperti dijelaskan President CoworkingID, Faye Alund, Temu ini bukan hanya membicarakan apa yang terjadi atau bisnis-bisnis yang terkait dengan menjalankan program, acara atau keanggotaan yang ada dalam fasilitas fisik coworkingspace. “Jadi lebih ke identifikasi revenue stream, partnership, bentuk-bentuk kolaborasi dengan korporasi, pemerintah; hal-hal yang bisa dilakukan oleh coworkingspace dalam ekosistem dan bukan hanya mengandalkan pendapatan berdasarkan luas ruangnya,” tutur Faye.

 

Ajang kumpul ini menghadirkan tidak saja pembicara dari BRI sebagai sponsor utama acara, Bekraf, Telkomsel, Unilever, Tempo, dan lainnya, tetapi juga dari pemilik atau operator coworkingspace seperti Kumpul, Hubud, Impala Space, Kekini, Code Margonda, Estubizi, Union Space, Impact Hub, Satu Atap, BizLab, 3/4, Co&Co, GoWork, CocoWork, dan lainnya, 

 

Temu juga menghadirkan pembicara dari ekosistem lain yaitu para pemberdaya ekonomi lokal. Mereka semua berasal dari kota-kota kecil yang mampu melahirkan gagasan menarik, bersifat pemberani dan sangat inspiratif. Ada perempuan tangguh bernama Siti Murniasih (Asih) yang mendirikan Omah Sinau Gesang di Lumajang. Setelah berkarir di dunia LSM internasional selama 10 tahun ia kembali ke kotanya, Lumajang, dan memberdayakan anak-anak muda dan perempuan untuk berkarya dan menjadi kreatif melalui berbagai cara. 

 

Vicky dari Malang Creative Fusion (MCF) membuat ekosistem startup yang berisi lebih dari 50 universitas. Menurutnya, MCF adalah bentuk fasilitasi penyediaan infrastruktur di kotanya. Sedangkan Ginggi dari Jatiwangi Art Factory menceritakan bagaimana mengubah Jatiwangi yang hanya memiliki genting dan genting saja menjadi kota kecil berkesenian dan destinasi wisatawan dalam dan luar negeri. 

 

Sebuah sesi tak kalah menarik juga adalah testimoni dari tiga startup yang memulai kiprahnya di coworking, dan kini bisnis mereka sudah berhasil. Ketiganya adalah Kostoom yang memulai di Code Margonda (Depok), Gringgo yang berawal di Hubud dan Kumpul (Bali), serta LSM Lindungi Hutan yang memulai gerakannya dengan program inkubasi di Impala Space (Semarang). 

 

Euforia sudah terjadi saat Estubizi sampai di kota Semarang pada tanggal 6 Desember 2018 dan langsung menuju markas Impala Space, coworkingspace yang menjadi panitia penyelenggara utama Temu ini. Beberapa pengurus Coworking ID yang baru menyelenggarakan konferensi pers masih berkumpul di Spiegel, sebuah bangunan cantik bergaya Renaissance yang berdiri tahun 1895. Di gedung ini Impala Space menempati lantai dua dengan dekorasi bernafas kerja tanpa sekat namun tetap terasa nyaman. Salah satu yang menarik adalah model meja yang menyembunyikan kabel listrik dan bisa bersambung antar meja, juga memiliki tempat menyimpan laptop dengan penutup. 

 

Brand Leader Impala Space, Gatot Hendraputra, segera mengantar Estubizi berkeliling sambil saling curhat perjuangan coworking masing-masing. Seperti halnya Estubizi, Impala Space juga menjadi tempat Gapura Digital mengadakan training Google setiap hari Sabtu dan Minggu. Training tersebut memang hanya diselenggarakan di satu coworking di tiap kota. Lantai pertama yaitu Spiegel Bar and Resto buka hingga tengah malam namun tidak mengganggu kegiatan dan kesibukan kerja para pengguna Impala. 

 

Pembicara dan Diskusi yang Keren

 

Sungguh, baru kali ini saya mengikuti sebuah acara tanpa ingin melewatkan satu sesipun selama 8-9 jam sehari, berkonsentrasi penuh, lupa minum, tidak mengantuk, menahan ke toilet dan tidak ngemil apapun sepanjang hari. Memang sih sempat kabur ke warung kopi terdekat, Hero Coffee, dan bertemu dengan hampir seluruh peserta disana. Tetapi itu pun pada saat istirahat serta merasa rugi ketika kembali ke kelas dan acara sudah dimulai.

 

Semua pembicara seluruh sesi Temu Coworking ini hebat dan penuh semangat. Hari pertama bertajuk Coworking Campus berupa workshop intensif dengan berbagai sub topik spesifik seputar perkembangan coworkingspace di Indonesia. Sedangkan Coworking Unconference di hari kedua adalah bentuk kegiatan diskusi yang dibagi dalam beberapa kelas; masing-masing memiliki topik bahasan yang berbeda untuk memperkaya wawasan terkait industri coworking. Uniknya, topik bahasan ini diambil dari usul peserta yang menuliskan di kertas lalu menempelkan di papan tulis yang tersedia. Panitia mengelompokkan semua usul ;dan kali ini ada 4 kelas Uncofference sesuai tema besar dari usulan topik.

 

Sebuah sesi non-formal yang selalu terselip di semua acara adalah networking, yaitu sesi berjejaring yang kali ini tidak banyak melibatkan kartu nama seperti sebelumnya, melainkan tukar menukar nomor ponsel dan akun Instagram. Tren paperless. Para millennials yang menjadi pengusaha kebanyakan sudah tak membawa kartu nama —entah sengaja atau tidak— dan lebih memilih hal yang justru sangat personal. Kebanyakan peserta dari coworkingspace pun sudah tergabung dalam grup Whatsapp CoworkingID sehingga tak perlu bertukar kartu nama lagi.

 

Direktur Bekraf, Hari Sungkari, membuka acara Temu dengan bahasan tentang alasan pentingnya coworkingspace. Hari yang sudah mengikuti geliat Perkumpulan Coworkingspace Indonesia sejak awal ini menceritakan tentang tren bekerja dan ruang kerja bersama dunia yang sudah diserap oleh generasi pekerja saat ini di Indonesia. Bekraf menggenjot tiga lini bisnis yaitu aplikasi game, musik dan kuliner. Menurutnya, ekonomi kreatif berpikir dari hilir ke hulu dan bekerja dari hulu ke hilir. Kuliner masih penyumbang ekonomi terbesar, sekitar 40% dari PDB; dan akan terus dikembangkan sebagai kearifan lokal yang dibungkus kekinian. 

 

Sesi-sesi lainnya tak kalah menarik, sehingga seringkali saya tak mencatat karena sudah terpukau pada uraian pembicara dan materinya. Namun beberapa catatan yang ada semoga dapat menambah wawasanmu dan membuatmu ingin bergabung dalam temu coworkingspace 2019 mendatang. Beberapa istilah maupun nama-nama kegiatan bisa kamu telusuri lagi di internet jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut. *bersambung*

Posted in: Startups
Like (2)
Loading...
2