Mazda Radita
by on December 6, 2018
6 views

Estubizi X DailySocial.id

It’s not a sprint, it’s a marathon“. Kalimat ini mungkin paling mendekati saat menjelaskan soal siklus hidup sebuah startup. Startup dituntut untuk berkembang dengan pesat, dinamis, dan hal ini akan memaksa setiap pendiri untuk lari sekencang mungkin. Meskipun demikian, kondisi bertahan bukan hanya soal siapa yang tercepat. Dalam perjalanannya startup akan mengalami sebuah kondisi yang tidak hanya mengganggu kenyamanan, namun juga membahayakan kelangsungan perusahaan.

Krisis tak bisa dihindari dan cara mereka melangkah keluar dari krisis adalah hal yang membuat sebuah startup bertahan. Pendiri dan CEO Sribu dan Sribulancer Ryan Gondokusumo memaparkan pengalamannya mengatasi krisis di blog-nya baru-baru ini.

Ia dengan lugas menceritakan tiga pengalamanan pahit yang embuat perusahaannya mengalami krisis.

1. Merekrut talenta terburu-buru

Setelah mendapatkan pendanaan dari East Ventures tahun 2012 lalu, Ryan langsung memutuskan untuk fokus soal growth perusahaan. Demi  menggenjot growth Sribu, Ryan menggunakan uang pendanaan untuk menambah awaknya.

“Di bulan yang sama ketika kami mendapatkan pendanaan, saya merekrut 6-7 orang baru untuk bergabung bersama tim Sribu dan dalam sekejap kami memiliki 16 orang. Saat itu saya sangat bersemangat untuk memajukan Sribu, dan merasa momentumnya sangat tepat. Namun ternyata keterburu-buruan ini berdampak pada hal yang sama sekali kami tidak inginkan, bad hiring effect,” begitu ungkapnya.

Setelah berjalan ia menyadari bahwa tim barunya kurang cocok dengan kultur yang berlaku di Sribu dan tim yang gemuk dirasakan malah memperlambat gerak perusahaan. Dampak perekrutan yang buruk adalah karyawan yang tidak cocok dengan budaya perusahaan akan banyak “kusuk-kusuk” dan menebar aura yang tidak nyaman. Teamwork tidak terbentuk baik dan growth yang targetkan malah tidak tercapai.

“Pada akhirnya saya terpaksa cut hampir setengah dari tim saya. Sejak saya cut, tim kami butuh hampir enam bulan untuk recover dari masa krisis ini. Jadi total satu tahun habis untuk managing people dan bukan fokus ke membesarkan perusahaan,” ujarnya.

Perekrutan yang buruk dampaknya akan langsung terasa bagi kinerja startup. Energi yang harusnya dipakai untuk berkarya, harus terpecah mengurusi konflik internal. Dari pengalaman tersebut Ryan menyarankan untuk tidak tergesa-gesa dalam mencari dan merekrut talenta.

Setelah proses perekrutan, karyawan baru butuh waktu untuk adaptasi, makanya founder dan tim sumberdaya manusia, juga harus dapat mendampingi mereka. Ryan juga menyarankan untuk tidak merekrut secara masif.

2. Mencari pendanaan membuat pekerjaan terbengkalai

Untuk dapat tumbuh besar dengan cepat, startup membutuhkan dana. Salah satu cara dengan mencari pendanaan putaran berikutnya. Tugas ini biasanya disandang oleh Founder, khususnya CEO. Masa mencari pendanaan juga dapat berdampak buruk terhadap perusahaan.

“Kami merasa perlu untuk mulai mencari investor baru agar dapat terus konsisten untuk meningkatkan growth kami. Saya mulai mencari dari menjalin hubungan dengan para investor. Tiga dari lima hari kerja saya habis untuk mempersiapkan dokumen dan material untuk calon-calon investor ini,” cerita Ryan.

Namun setelah hampir menutup kesepakatan dengan investor, saat itu perfomance Sribu menurun. Calon investornya malah tidak jadi berinvestasi di Sribu. “Secara total saya menghabiskan waktu untuk investor relation tersebut selama hampir delapan bulan dan tanpa hasil,” kenangnya.

Ia menyarankan pendiri startup harus jeli dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pitching ke calon investor baru dan pastikan telah memiliki atau membangun tim yang bisa menyokong pendiri saat fokus mencari dana.

3. Perasaan frustasi

Setelah melewati  dua masa krisis yang hampir menghancurkan startupnya, Ryan juga mengalami satu benturan lagi. Tahun 2013 mereka mengalami penurunan penjualan, sehingga ia harus menggunakan keuntungan bulan sebelumnya untuk membiayai operasional sebelumnya.

“Hal ini terus terjadi selama sembilan bulan ke depan. Tiga bulan profit, satu bulan rugi, dan keuntungan habis, hingga kami merasa seperti lingkaran setan dan dipermainkan dengan produk kami sendiri,” kenang Ryan.

Ryan mengungkapkan justru akan lebih mudah bila setiap bulan rugi, dengan begitu keputusan untuk menutup perusahaan tidak akan sulit.

Ia pun meminta saran dari ayahnya dan beliau memotivasinya untuk terus berusaha. Selain itu, Ryan juga mendapat banyak ilmu dan dukungan dari investor yang menceritakan pengalamannya menjalankan bisnis.

 

(Artikel ini ditulis Hesti Pratiwi dan telah diunggah DailySocial.id pada 27 November 2018 dalam tautan https://dailysocial.id/post/tiga-situasi-yang-bisa-membahayakan-startup-anda)

Posted in: Startups