Mazda Radita
by on December 3, 2018
17 views

Estubizi X DailySocial.id

Pada tahun 2015, aplikasi pesan instan asal Singapura Pie menerima investasi senilai $1.2 juta dari beberapa investor yang dipimpin oleh GREE Ventures. Padahal Pie baru didirikan pada 2013 oleh Thijs Jacobs dan Pieter Walraven Mereka, yang mengaku tidak tahan lagi dengan buruknya perangkat lunak yang digunakan di kantor mereka.

Perusahaan tersebut juga menjadi rekan peluncuran Apple Watch, yang dipilih melalui proses yang sangat selektif. Kami berbicara dengan Co-Founder dan CPO Pie Pieter Walraven mengenai pencapaian Pie dan apa yang dapat dipelajari oleh startup Indonesia. Kami merinci percakapan tersebut ke dalam lima poin utama:


1. Temukan pasar yang unik

Saat kita berpikir pasar layanan pesan instan sudah terlalu sesak, Pie menargetkan segmen yang masih belum memiliki layanan yang dominan, yaitu pasar UKM dan startup, dan mereka sangat optimis akan hal tersebut.

Pieter mengatakan, “Kami bahkan berpikir bahwa segmen layanan pesan instan untuk lingkungan kerja sama tidak sesak sama sekali! Tergantung dari bagaimana Anda melihatnya: Jika Anda melihat layanan bagi para pekerja dengan para tim teknisi perangkat lunak, maka hal tersebut memang benar. Namun jika Anda melihat segmen lain dalam pasar UKM: maka tidak ada siapapun yang ada disana. Ketika kami mendemonstrasikan hal ini kepada para investor, mereka sangat tertarik.”

Lebih lanjut ia mengatakan,”Daripada menargetkan perusahaan teknologi, Pie berfokus pada pengalaman yang lebih sederhana dan bersahabat ‘tidak mengintimidasi’ bahkan bagi mereka yang paling berurusan dengan teknologi. Kami percaya bahwa peluang terbesar bagi layanan pesan instan berada pada penawaran sederhana dengan daya tarik yang luas sebagaimana aplikasi konsumen. Di luar keunikan pengembang perangkat lunak, banyak orang masih menggunakan WhatsApp untuk bekerja.”


2. Ikuti trend

Software-as-a-Service (SaaS), Bring Your Own Device (BYOD) cloud atau berbagai jargon teknologi lainnya merupakan primadona dalam banyak sektor dan Pie mencoba untuk membawa teknologi tersebut ke dalam pasar UKM dan startup, dengan implementasi yang lebih sederhana. Ujarnya, “Kami tengah membangun untuk perusahaan (B2C) karena kolaborasi dan produktifitas perusahaan merupakan segmen yang paling menjanjikan saat ini. Pie merupakan bagian dari gelombang baru perusahaan yang ingin memperbarui cara kita bekerja selama 50 tahun. Sebuah peluang yang unik yang tidak Anda lihat setiap hari.”

“Selain mobile yang mendominasi dunia, ada beberapa perubahan penting dimana Pie menjadi bagiannya: bisnis berpindah menuju SaaS dan Cloud, adopsi perangkat lunak yang disebabkan oleh tren BYOD, layanan pesan instan menjadi cara utama untuk berkomunikasi, dan meningkatnya konsumsi IT,” tambah Pieter.


3. Perluas jaringan

Tidak berada di Silicon Valley merupakan kerugian jika Anda membidik pasar global, namun Anda dapat selalu menggunakan jaringan Anda untuk menjangkau pasar lainnya, termasuk investor Anda.

Pieter mengatakan, “Mekipun Pie berbasis di Singapura, namun pengalaman saya dan co-founder saya membuat kami memiliki jaringan yang kuat di Asia dan Amerika Serikat. Investor kami juga membantu kami dalam hal ini. Contohnya Wavemaker telah membantu kami untuk berhubungan dengan DFJ Network di Amerika Serikat. Sungguh sangat berharga untuk dapat menjadi salah satu perusahaan portofolionya, kami bahkan dapat menghadiri acara DFJ CEO Summit di Silicon Valley tahun lalu.”

Katanya, “Investor terbaru kami GREE Ventures memiliki jaringan yang kuat di Jepang yang dapat membantu kami dalam meningkatkan traksi di pasar tersebut.”


4. Pahami pasar Anda

Pie berisikan para orang teknis dan kami penasaran dengan cara mereka dalam memasarkan produk. Pieter menjawab,”Pertama-tama sangat penting untuk mengetahui target pengguna Anda. Dimana peluang pasar dan apakah pasar tersebut cukup besar untuk dijadikan target atau tidak. Hal ini penting terutama bagi perusahaan yang didanai oleh VC: peluang tersebut harus cukup besar sehingga mereka dapat menempatkan uang mereka.”

Ia kemudian menyebutkan beberapa pertanyaan yang mungkin timbul pada tahapan ini, seperti “Seberapa sesakkah segmen ini?”,”Apakah orang-orang pada segmen tersebut  memang menginginkan produk yang saya tawarkan, seberapa mudah meyakinkan mereka untuk menggunakan aplikasi saya?”,”Apakah ada masalah/kebutuhan yang jelas pada vertikal yang saya masuki?”

“Bagian dari strategi penargetan dan penempatan harus timbul dari introspeksi: apakah kekuatan kita, dimanakah kita memiliki jaringan yang kuat, vertikal apakah yang harus kita masuki dimana para pendiri perusahaan memberikan masukan unik mengenai bagaimana orang-orang bekerja?”, ujarnya.


5. Ciptakan produk yang hebat

Kami bertanya mengenai pengalaman Pie dalam mendapatkan izin untuk memproduksi aplikasi Apple Watch. Pieter menjawab, “Sejauh ini hal yang paling penting dari menciptakan hubungan adalah menciptakan produk yang hebat. Tanpa hal ini pintu tidak akan terbuka. Dengan hal ini percakapan menjadi lebih mudah. Setelah menghabiskan waktu untuk memoles dan mengoptimalkan produk Anda, serta meyakini bahwa para pengguna mencintai produk Anda, Anda dapat menghubungi para mitra kami seperti Google atau Apple.”

“Apple merupakan perusahaan yang berfokus pada produk dan mereka sangat teroptimasi dalam hal aplikasi yang dapat meningkatkan pengalaman dalam platform mereka. Sangat penting untuk menjadikan hal ini sebagai keunggulan Anda, yang berarti menghubungi mereka ketika Anda merasa siap, karena hal ini menawarkan kesempatan distribusi yang kuat,” tutupnya.

 

(Artikel ini suntingan tulisan dari Amir Karimuddin yang telah diunggah DailySocial.id pada 15 Juni 2015 dalam tautan https://dailysocial.id/post/apa-yang-dapat-kita-pelajari-dari-aplikasi-pesan-instan-asal-singapura-pie)

Posted in: Pendanaan